Cahaya, astronomi dan otomatisasi pekerjaan di masa depan.

Weekend kemarin nonton film Iqra sama keluarga. Film keren. Mendidik buat anak-anak tapi nggak membosankan buat ditonton orang dewasa. Singkat cerita recommended lah untuk jadi tontonan seluruh keluarga.

Anyway, saya nggak pingin ngebahas film-nya disini, cuma hikmah film itu ngingetin saya sama dua momen lainnya yang kebeneran kok berhubungan. Yang satu tentang project saya 16 tahun yang lalu waktu kerja di KPN Research, Belanda. Yang satu lagi tentang otomatisasi pekerjaan di masa depan yang lagi heboh dibahas para analis dan praktisi SDM.

Dan ada satu hal yang jadi penghubung ketiga topik yang seperti nggak terkait itu : Cahaya 🙂

Sorry..agak spoiler alert. Di film Iqra itu banyak diangkat gimana observatorium Boscha yang udah ada sejak jaman Belanda itu terancam proses pengamatan bintang dan keberadaannya dengan terlalu banyaknya lampu-lampu dari bangunan di sekitar Boscha, terutama yang posisinya terlalu dekat dan pancaran sinarnya mengarah ke atas.

Cerita di film Iqra tadi langsung ngingetin sama cerita pertama ini : 16 tahun yang lalu waktu saya kerja di KPN Research, Belanda saya terlibat di sebuah proyek ambisius terkait penggunaan radio frequency dan data processing untuk aplikasi astronomi di Eropa yang dipelopori lembaga Belanda, ASTRON. Project ini banyak melibatkan Astronom, orang Telco dan orang IT Data Processing. Inti projectnya adalah membuat cara pengamatan benda langit secara Digital.

Singkat ceritanya project LOFAR (Low-Frequency Array) itu, pengamatan benda langit pake teropong berlensa itu ada batas fisiknya (ukuran lensa dan range mata manusia). Project LOFAR menemukan dan mengusulkan alternatif lain pengamatan benda langit secara Digital. Dengan pakai sensor antena-antena kecil yang murah namun dengan jumlah dan penempatan posisi antena yang pas plus didukung proses pengolahan data yang canggih, kita bisa mendapatkan image benda-benda langit dengan kedetailan sampai setara lensa berdiameter ber kilo-kilometer (which is physically impossible). Detail project-nya bisa dilihat di link ini : LOFAR-Wikipedia.  fyi, projectnya udah dimulai research-nya dari tahun 90-an termasuk waktu saya terlibat di tahun 2001-2002, terus lanjut dibangun 6 tahun mulai 2006 sampai akhirnya mulai live di tahun 2012.

Ini cerita kedua : Pas minggu kemarin saya dengerin cerita Dr. Denny Turner dari Mercer tentang The Future of Job. Beliau menyampaikan hasil research tentang pekerjaan apa saja yang naik dan juga menurun kebutuhannya dalam 5 tahun ke depan. Salah satu bahasan utamanya adalah pengaruh otomatisasi akibat adopsi teknologi yang bisa mempercepat ‘hilangnya’ beberapa jenis pekerjaan. Salah satu case yang di-highlight Dr. Turner adalah bakal adanya penghematan signifikan karena otomatisasi di pabrik-pabrik akibat tidak diperlukannya lagi cahaya lampu di pabrik-pabrik. Kenapa ? Karena saat ini lampu-lampu yang hampir semuanya bertenaga listrik itu hanya dibutuhkan untuk ‘melayani’ mata kita untuk pekerjaan yang butuh pengamatan visual langsung manusia.

Begitu otomatisasi terjadi, yang akan langsung terasa adalah penghematan besar dari penggunaan listrik untuk lampu-lampu karena mesin yang terotomatisasi nggak perlu penerang untuk bisa bekerja. Satu-satunya alasan butuh lampu hanya kalo ada aktivitas yang membutuhkan interaksi visual mata manusia.

Jadi kesimpulan dari kedua cerita itu begini kira-kira :

  1. With respect terhadap kekaguman saya dengan pesan yang dibawa pembuat film Iqra dan kerinduan saya terhadap suasana Lembang masa lalu, tapi sepertinya cara meneropong angkasa dengan lensa fisik udah sulit mengikuti tuntutan perkembangan jaman. Digitalisasi udah masuk ke berbagai sektor kehidupan, yang membuat berbagai hal yang awalnya mustahil bisa jadi nyata dan meningkatkan kualitas kehidupan kita.
  2. Kebutuhan cahaya itu sebenernya banyak dari tuntutan mata manusia. Kalo proses sebelumnya yang banyak butuh partisipasi aktif mata manusia bisa digantikan oleh teknologi yang bisa meminimalisir inspeksi visual langsung dari mata manusia, ada banyak hal baru yang bisa diterobos di masa depan dan ada banyak cost listrik yang bisa dihemat.

#bePositive #beInnovative

Ditulis di Bandung dan Jakarta.

Andi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s