Benang merah perusahaan yang kolaps

Kalo orang ditanya Jim Collins, sebagian besar orang pasti ngaitkan dia dengan ‘Good to Great’. Nggak banyak orang tahu bahwa hasil research ‘Good to Great’ terkenalnya itu sebenernya niat utamanya untuk nulis buku ‘Built to Last’. ‘Good to Great’ itu sebenernya produk sampingan yang baru kepikir belakangan aja sama Collins dan teamnya, tapi memang Collins menganggap kesimpulannya lebih nendang. Tapi ternyata buat saya, kesimpulan yang paling menggelitik itu justru ada di buku ketiganya ‘How the Mighty Fall’, lagi-lagi ini juga sebenernya hasil sampingan dari research yang sama.

Cerita tentang kisah sukses emang enak kata Collins… datanya banyak, orang lebih terbuka dan semangat cerita tentang kunci sukses dia dan perusahaannya. Narik kesimpulan dan narik benang merah kisah sukses juga relatif gampang. Kunci sukses perusahaan-perusahaan Great itu polanya mirip dan bisa dibuktikan dengan data-data dan hasil interview yang penuh insight.

Sebaliknya, cerita kegagalan lebih sulit dan ruwet. Datanya banyak nggak lengkap, banyak narasumber yang nggak mau diwawancara atau cenderung menutupi/menghindar ngomongin fakta sejarah yang nggak enak buat diungkap. Andai datanya terkumpul pun, menarik kesimpulannya juga sulit.

Collins juga menyimpulkan kalau perusahaan yang pernah sukses bisa gagal dan hancur karena berbagai cara dan dalam berbagai durasi rentang waktu. Walaupun demikian, research Collins berhasil menarik benang merah pola perusahaan yang kolaps padahal dulu pernah sukses. Intinya, walau perjalanan perusahaan sukses jadi kolaps beda-beda, tapi polanya ternyata sama : ada 5 fase yang dilewati perusahaan sukses yang kemudian kolaps. Ini sebenernya inti cerita buku ‘How the Mighty Fall’.

Kelima fase itu adalah :

  1. Hubris Born of Success. Perusahaan itu sukses menemukan dan menjalankan satu bisnis, kemudian jadi arogan karena kesuksesannya. Bentuk arogansinya macem-macem : jadi malas belajar, mulai menekan partner dengan deal yang berat sebelah dan yang lain semacam itu.
  2. Undisciplined Pursuit of More. Perusahaan yang sukses dengan bisnis utamanya, terus kemudian jadi arogan dan merasa bahwa dengan mudah dia bisa sukses juga di tempat lain di luar bisnis utamanya. Akibatnya perusahaan itu mengejar hal baru tapi tanpa disiplin yang diperlukan untukย  membangun bisnis barunya
  3. Denial of Risk and Peril. Mimpi kesuksesan di bisnis baru yang dikerjakan tanpa disiplin itu membuat perusahaan jadi nggak sensitif sama resiko dari bisnis barunya, enggan mendengar masukan realistis dan mulai berlebihan mengambil resiko.
  4. Grasping for Salvation. Ketika inisiatif bisnis baru tidak berjalan sesuai harapan, yang sering terjadi adalah sibuk mencari-cari alasan pembenaran dan kemudian melakukan langkah-langkah reaktif yang sebenernya tidak menyelesaikan akar masalah. Beberapa mulai menyadari dan menyesali bahwa ketika perusahaan berkembang seharusnya bisnis dibangun secara konsisten di sekitar pengembangan core competence…sayangnya biasanya udah terlambat.
  5. Capitulation to Irrelevance or Death. Udah masuk fase terakhir ini biasanya pada praktisnya udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Pertanyaannya tinggal masih mau fight nyelamatin sisa-sisa atau keluar aja nyatain bangkrut. Di tahap ini either perusahaan itu dianggap bisnisnya udah nggak menarik pelanggan, dianggap nggak relevan dan/atau mati aja.

Sekali lagi, bentuk dan jangka waktu 5 fase itu bisa beda-beda di tiap perusahaan yang diamati, tapi pola yang dilaluinya cukup konsisten. Collins juga bilang ini mirip banget kayak penyakit : semakin awal tahapan penyakit, lebih susah dideteksi tapi kalo ketemu di awal semakin mudah diobati… sebaliknya semakin ke fase akhir penyakit, deteksinya lebih mudah tapi mengobatinya semakin susah.

Anyway.. Buku ini agak dark, penuh dengan fakta kegagalan yang membuat hati nggak nyaman dan membuat kita feel sorry untuk hal-hal di perusahaan yang akhirnya gagal setelah sempat dicatat sejarah sebagai perusahaan sukses. Tapi that’s lesson learned..bagus untuk kita belajar dan berusaha agar nggak mengulangi kesalahan yang sama.

#bepositive

Ditulis di Jakarta dan Bandung.

Andi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s