Google pun punya masalah dengan inovasi : cerita di balik Pokemon Go

Kadang saya suka mikir, perusahaan yang punya masalah terkait inovasi itu cuma perusahaan besar yang umurnya udah berpuluh atau bahkan beratus tahun. Perusahaan canggih masa sekarang semodel Google gitu selalu jadi contoh bagaimana berinovasi yang baik dan benar. Dan saya pikir harusnya mereka nggak ada masalah sama inovasi. Mereka itu gudangnya inovasi dong… Ternyata saya salah…:)

Pas bulan Juni kemarin saya ikut course tentang Innovative Organization di Haas Business School, UC Berkeley. Setelah 10 tahun lebih akhirnya ngerasain lagi begadang-begadangย  baca dan analisis business cases lagi. Yang menakjubkan dari MBA Amerika emang business case-nya fresh from the oven. Pas dibahas di kelas saya awal Juni, case-nya baru keluar dari editor-nya pertengahan Mei. Umurnya belum genap sebulan, bener-bener masih fresh from the oven. Profesor yang nulis case-nya sendiri lah yang jadi fasilitator diskusi dan tokoh yang dibahas di case itu didatangkan langsung ke kelas buat cerita, diskusi dan ditanya-tanyain. Emang mbuat ngiler para penggemar tulisan non-fiksi bisnis.

Jadi tokoh utama cerita business case itu adalah John Hanke. Dia VP GoogleGeo yang udah 11 tahun kerja megang posisi itu di Google. Sekitar 12 tahun lalu, perusahaan dia Keyhole diakuisisi sama Google yang kemudian jadi cikal bakalnya Google Earth. John Hanke ini sejak dulu udah dikenal sebagai pelopor dan pakarnya visualisasi pemetaan, belakangan juga Augmented Reality. Setelah dia jadi VP GoogleGeo, dia ini yang jadi otak di balik lahirnya Google Earth dan semua fitur Augmented Reality di dalam Google Maps dan produk Google sejenis lainnya. Yang nggak banyak orang tahu, lepas dari cap sebagai ‘mbah’-nya Augmented Reality dan peta digital, passion Hanke sebenernya adalah Game Developer, hobi lama yang dia garap agak sambilan setelah jadi salah satu eksekutif Google. Anyway, problem statement utama di business case itu adalah dia sedang galau karena perusahaan augmented reality game rintisannya di dalam Google, Niantic Labs, sedang ada di persimpangan jalan. Mending dia bangun terus di dalam Google atau dia bawa spin-off keluar dari Google ?

Nah habis baca case dan buat analisisnya..saya dan teman-teman sekelas debat di depan kelas. Ada yang pro spin-off ada juga yang kontra. Saya mendukung Niantic Labs keluar dari Google. Argumen yang saya bawa sih karena Niantic Labs bisa lebih lincah ngegarap pasar potensial, khususnya Asia kayak Jepang sama Asia Tenggara. Menurut saya dan teman-teman yang mendukung spin-off, faktor lain yang ikut menguatkan argumen spin-off adalah John Hanke juga kelihatan banget passion-nya sebagai hardcore entrepreneur.

Singkat cerita setelah selesai presentasi dan diskusi, ternyata kita baru tahu kalo seharian itu John Hanke udah duduk manis di belakang kelas dengan tampang persis kayak mahasiswa tamu lagi mengamati seluruh diskusi kita dari awal dan sibuk mencatat-catat di notes kecilnya. Kita sekelas lah yang kemudian terbengong-bengong pas John dipanggil sama pak profesor terus kemudian maju ke depan, sharing, nanggapi dan jawab pertanyaan-pertanyaan kita. What a surprise ๐Ÿ™‚

The rest is history lah ya. Kita tahu bahwa John Hanke akhirnya keluar dari Google dan dengan dukungan para pentolan di Nintendo dan The Pokemon Company, yang juga fans berat game-nya Niantic Labs,ย ย mereka mulai membangun yang kemudian jadi Pokemon Go.

Btw. Hanke presentasi di kelas saya 3 minggu sebelum Pokemon Go di launch pertama kali. Jadi waktu di kelas itu dia malah lebih banyak cerita tentang Ingress..game yang kemudian jadi engine-nya Pokemon Go. Setelah Pokemon Go meledak dimana-mana dalam waktu singkat, pastinya saya kembali terbengong-bengong ronde dua ๐Ÿ™‚ Saya juga semakin menyadari sepertinya nggak mungkin Niantic Labs dan Pokemon Go akan meledak kalo mereka tetap di dalam Google dan hanya jadi bagian kecil dari besarnya Google. Menurut saya John Hanke sudah ngambil keputusan yang nggak populer tapi sangat tepat.

#beinnovative #bepositive #beyourself

Ditulis di Bandung dan Jakarta.

Andi.

Advertisements

One thought on “Google pun punya masalah dengan inovasi : cerita di balik Pokemon Go

  1. Beruntungnya pak Andi bisa jumpa tuan Hanke, dan itu menjelang pokemon mau di launch.. *envy* ๐Ÿ˜

    Iyah, kayaknya untuk masalah innovasi ini bisa dibilang “equal” pak. Semuanya punya masalah yg sama. Even google..

    Dan kayaknya juga duo founder menyadari ini. Tulisan Larry Page dihalaman depan “Alpha-bet” menjelaskan kenapa harus dibuat Holding Company Alphabet.

    Soalnya kalau ambil istilahnya “too bold to budge”, terlalu besar untuk bergerak. Moonshot dikhawatirkan hanya lipsservice dowank hihi.. Dan iyah, kalau jadi beberapa perusahaan yang fokus, bukan bagi-bagi kursi CEO seperti yg dituduhkan fortune. Halah, siapa yang sangsi sama ibu Wojcicki (youtube) atau katakanlah ragu sama tuan Pichai (Google inc)?

    Justru membuat holding alphabet supaya bisa think like startup, bisa “making smaller bets in areas that might speculative or even strange”. Kind of lah.. Supaya bisa keep innovating seperti tulisan bapak diblog. “Inovasi” kuncinya dan mereka faham mereka punya masalah juga disitu.. ๐Ÿ˜

    Oiyah about tuan Hanke, love the way you describe him sir.. “Hardcore Entreprenuer” hehe.. Pas banget! ๐Ÿ˜

    Eh “hardcore entreprenuer” atau tepatnya pakai kalimat “hardcore technoprenuer” yah? Podo kali yah pak hehee..

    *ini hanya recehan saja.. โœŒ๏ธ๐Ÿ˜

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s