Ancaman kematian untuk Uber, Gojek dan sharing-economy business lainnya

Saat ini rasanya berbagai macam masalah sehari-hari bisa banyak disolusi dengan cara yang revolusioner oleh pendatang baru penyedia platform sharing-economy seperti AirBnB, Uber, GoJek dan teman-temannya. Tapi apa iya mereka dengan modal platform tanpa aset begitu adalah kekuatan spesial yang membuat mereka jadi tidak bisa ditandingi penyedia layanan serupa ? Ternyata oh ternyata bagaimanapun nggak punya aset itu bisa jadi akar masalah juga.

Bulan Juni pas lagi ngampus di Berkeley saya kenalan sama Uwe. Dia ini orang Jerman dan kerja di BMW, bertugas mengepalai semua inovasi BMW yang di Silicon Valley. Kerjaannya ngintip berbagai macam inovasi di Silicon Valley dan memutuskan kalo BMW bisa berkolaborasi atau berinvestasi sama Startup-Startup super kreatif itu.

Ngobrol ngalor ngidul dari urusan Tesla sampe boringnya liga Jerman karena Bayern Munchen nggak ada lawan sepadan, diskusi kita berujung di Uber dan sharing-economy dunia otomotif. Uwe cerita kalo Uber dan teman-teman bisnis serupanya cukup berpengaruh kepada penurunan demand kebutuhan membeli mobil dan pada akhirnya mengancam bisnis produsen mobil seperti BMW. Wah, saya awalnya mikir Uber itu mengancam industri taksi doang. Uwe bilang nggak lah… Dengan adanya Uber membuat semakin banyak orang-orang mapan terutama profesional muda di kota-kota besar yang nggak merasa butuh untuk punya mobil. Parkirnya, pajaknya, maintenance-nya buat pusing aja..Uber dan Grab gitu membuat layanan serupa taksi/sewa mobil jangka pendek jadi semakin reliable dan transparan..pada dasarnya itu hal terpenting yang pelanggan butuh dan kurang mereka dapatkan di layanan taksi konvensional.

Bener juga. Nah terus BMW gimana menyikapinya ? Uwe bilang kalo sekarang dan di masa yang akan datang produsen mobil model BMW akan semakin menjauhi konsep ‘ownership’ mobil dan akan pindah ke ‘usership’. Ujung-ujungnya business model mobil akan bergeser dari fokus pelanggan ‘memiliki’ menuju ke fokus pelanggan ‘menggunakan’.

Jadi misalnya kalo saat ini kita mau beli (buat punya) mobil BMW seri 5 keren harganya 1 miliar… Pada prakteknya kita tahu bahwa hampir seluruh kebutuhan kita bermobil adalah nganter ke kantor, nganter pulang dari kantor dan buat keliling pas weekend sama keluarga. Kenapa juga kita harus ngeluarin duit 1 miliar cuma buat, basically 3 kebutuhan, itu doang ? Belum lagi kalo mempertimbangkan mobil itu bukan barang investasi..1 miliar itu paling cuma nyisa separo harga pasar setelah 3 tahun-an. Jadi ? BMW (dan belakangan saya tahu produsen mobil lain juga) berfikir..kenapa nggak misalnya orang bayar aja 100 juta per tahun buat bisa make mobil BMW keren itu instead of ngeden ngeluarin duit 1 miliar. Si pelanggan itu dijamin dianter jemput ke kantor, mobilnya bisa full dipake weekend sama keluarga..pelanggan itu juga nggak usah pusing sama tetek bengek maintenance terus pajak mobil segala macam and the best of all : orang itu dijamin selalu bisa pake mobil BMW seri 5 terbaru karena mobilnya bakal diganti yang baru setiap tahun atau dua tahun. Dengan budget yang nggak nyampe sebesar beli Xenia itu, si pelanggan bisa tiap hari naik BMW seri 5.

Saya manggut-manggut habis diskusi sama Uwe. Tapi setelah itu saya mikir. Nah lho..perusahaan kayak Uber itu kan emang nggak punya aset. Mereka sangat bergantung dan nggak bisa beroperasi tanpa mobil beneran tho. Nah terus kalo produsen mobilnya bisnis modelnya berubah kayak model usership gitu dan semua orang bayar sesuai kebutuhan dia pas butuh make aja ya berarti banyak pelanggan ujung-ujungnya nggak ngerasa butuh Uber dan teman-temannya itu. Orang nggak perlu punya tabungan dan duit banyak untuk bisa make mobil tanpa harus memiliki. Ruwet..ruwet deh ๐Ÿ™‚

Emang nggak akan terjadi dalam skala besar di waktu dekat sih sepertinya, walaupun BMW bilang sih udah jalan beberapa tahun. Inisiatifnya produsen-produsen mobil ini juga pasti nggak gampang dan banyak masalah dan rintangan dari dalam dan dari luar. Tapi moral of the story-nya jelas : di jaman digital kayak sekarang harus terus menerus berinovasi menemukan solusi buat masalah orang banyak. Kalo nggak inovatif, bahkan bisnis-bisnis yang banyak dipuji-puji orang karena baru dan sukses pun akan segera dianggap ketinggalan dan kehilangan peluang.

#bepositive #beinnovative

Ditulis di Bandung.

Andi.

Advertisements

2 thoughts on “Ancaman kematian untuk Uber, Gojek dan sharing-economy business lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s