Delegasi pekerjaan. Kenapa perlu dan kenapa banyak yang tidak melakukan ?

Salah satu skill yang membedakan seorang pemimpin yang baik dan biasa- biasa saja adalah skill untuk MENDELEGASIKAN PEKERJAAN secara efektif kepada anak buahnya.

Banyak orang membahas dan mendengar tentang delegasi, cuma kayaknya banyak yang menyangsikan sudah banyak yang paham tentang delegasi-delegasian ini.

Ada dua sisi yang sering keliatan untuk urusan delegasi-delegasian ini..
Sisi ujung yang satu, banyak proses pendelegasian dari pemimpin ke anak buah yang pada dasarnya cuma ngelempar tanggung jawab.
Nandainnya gampang, proses delegasinya intensif terjadi waktu ada masalah (saja). Cari kambing hitam (yang apesnya) ke anak buahnya.
Di sisi yang lain, pendelegasian kerjaan adalah salah satu tools dinamis TERBAIK yang bisa dipakai seorang pemimpin yang baik untuk memotivasi anak buahnya dan memberi kesempatan kepada anak buahnya untuk berkembang dan memaksimalkan seluruh potensi yang dimilikinya.

Sebenernya kenapa sih seorang manager atau pemimpin harus mendelegasikan kerjaannya ? Paling enggak ada 4 alasan kuat :
1. Anak buahnya punya kompetensi dan pengalaman yang sama atau bahkan lebih baik.
Lha ini banyak yang salah kaprah. Emangnya pemimpin itu harus selalu jadi orang yang paling pinter terhadap segala hal di tim-nya ?
2. Si pemimpin ingin mengembangkan kemampuan dan mempertajam skill pengambilan keputusan anak buahnya.
Practice make perfect !
3. Berada dalam situasi bisnis yang sangat dinamis.
Eksekusi dan pengambilan keputusan yang cepat menjadi sangat krusial. Delegasi akan mempercepat proses eksekusi dan pengambilan keputusan.
4. Si pemimpin over-loaded dan mulai terlihat tanda-tanda ada tugas dan aktivitas yang ‘terlepas’ dari kendali.

Nah, tapi ini yang lebih seru : ada ENAM alasan yang membuat pemimpin TIDAK mendelegasikan pekerjaannya :
1. Nggak punya waktu untuk menjelaskan, ngajari atau menanggapi pertanyaan anak buahnya.
Kontradiktif ya ? Tapi nggak punya waktu ini adalah alasan terbanyak kenapa pemimpin nggak melakukan delegasi.
2. Perfeksionis.
Ngerasa nggak bisa aja ada orang lain yang ngerjain kerjaannya.
3. Menikmati situasi ‘tangan yang kotor’ dengan tetap melakukan pekerjaan yang terlalu teknis.
Ini alasan terburuk dalam hal TIDAK melakukan delegasi. Ini banyak terjadi pada pemimpin bidang-bidang teknis dan IT 🙂
4. Ketakutan menyerahkan otoritas.
Alasannya mirip-mirip perfeksionis. Terlalu menikmati jadi orang yang mengambil keputusan atas segala sesuatu.
5. Takut dianggap nggak berperan.
Hehehe..ini yang sering dianggap jebakan batman sama para pemimpin. Ogah banget rasanya kalo sampe ada orang komentar : ‘Semua yang ngerjain anak buahnya, bos-nya nggak ngerjain apa-apa’
6. Nggak percaya anak buahnya bisa ngerjain yang menjadi tugas dan kewajibannya.
Musuh orang-orang bagus umumnya rasa bosan. Delegasi adalah tools yang baik untuk mengusir rasa bosan itu dari anggota tim.

Sedikit penutup aja.
Kadang orang susah membedakan antara RESPONSIBILITY dan ACCOUNTABILITY.
Responsibility (tanggung jawab MELAKSANAKAN PEKERJAAN) bisa didelegasikan. Dan sebaiknya malah sebisa mungkin didelegasikan (dalam berbagai tingkat kedalaman).
Accountability (tanggung jawab terhadap HASIL PEKERJAAN) umumnya TIDAK bisa didelegasikan kecuali dalam beberapa kasus khusus saja.

Begitu..

#ActCreative #BePositive

Ditulis di Padalarang, Jakarta, Pesawat menuju Semarang dan Semarang.
Andi.

Advertisements

4 thoughts on “Delegasi pekerjaan. Kenapa perlu dan kenapa banyak yang tidak melakukan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s