Punya Boss Nyebelin?

Masih dipetik dari Winning-nya Jack Welch.
Topik yang menarik, tapi jarang dibahas orang : Menghadapi situasi kalo punya ‘Bad Boss’.

Biasanya setiap orang yang punya pengalaman kerja cukup lama, akan dengan semangat dan sorot mata berbinar-binar bercerita tentang bos hebat yang pernah kerja bareng mereka di sebuah segmen dalam karir mereka.
Bos-Bos hebat yang bisa jadi apakah itu teman, guru, coach atau sumber inspirasi. Gak jarang sekaligus semuanya ada dalam satu orang, dan hal itu membuat kesan yang semakin mendalam dengan sang Good Boss.

Di lain pihak, ada saat dalam karir dimana seseorang punya bos yang susah dihadapin, nyebelin dan rese.
Bos tipe begini seringkali ‘membunuh’ energi positif, mimpi, komitmen dan harapan.
Suka buat marah, sakit hati dan bahkan sakit badan beneran.

Nah lho, terus kalo kejadian punya ‘Bad Boss’ itu menimpa kita terus gimana dong ?
Keluar aja kali, ya ? Ngapain juga bertahan ?

Coba kita gali pelan-pelan..
‘Bad Boss’ itu kalo kata Jack Welch bisa berwujud dalam beberapa bentuk…
…*nah lo, mulai kayak film horor*…
Bisa jadi Bad Boss itu :

1. Ngambil semua ‘kredit penghargaan’. Nggak nyisain apa-apa buat anak buahnya.
2. Nggak kompeten di bidang kerjaannya.
3. Suka ‘menjilat’ ke atas tapi ‘nginjek’ ke bawah.
4. Suka melecehkan dan mempermalukan. Nggak jarang di muka umum.
5. ‘Moody’ berat.
6. Berat sebelah. Suka milih-milih. Favorit-favorit-an anak buah.
7. Bos yang super pelit penghargaan buat anak buah.

Nah, repotnya lagi nggak jarang bos rese itu punya beberapa ciri di atas sekaligus.

Kadang keluar juga pertanyaan : Kok bisa ya mereka jadi bos ?
Yah, biasanya mereka orang-orang yang sangat berbakat. Mereka ‘deliver result’ atau super-duper kreatif. Di beberapa industri yang sangat mengagungkan hasil akhir dan kreativitas, bos-bos rese itu bahkan bisa bertahan sangat lama.

Ok lah dengan ceritanya. Sekarang gimana ?

Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab kalau kita menghadapi situasi ‘Bad Boss’ ini.
Cuma sebelum masuk ke pertanyaan-pertanyaan itu, ada satu pantangan mendasar yang harus dicamkan baik-baik ketika berhadapan dengan situasi ini :
Jangan pernah merasa MENJADI KORBAN dan MENGASIHANI DIRI SENDIRI
Tampak mudah tapi pada prakteknya sering dilakukan orang-orang yang terjebak dalam situasi Bad Boss ini.

Curhat sama teman atau keluarga itu wajar, tapi berkeluh kesah ‘mengharap belas kasihan’ orang yang mendengarkan tidak akan menolong.
Yang juga umum dilakukan orang-orang yang merasa menjadi korban adalah mencari pelarian dari masalah : alkohol, dugem dan sebangsanya..
Atau sering juga begitu menghadapi masalah ini, langkah yang dilakukan adalah kasak-kusuk cari-cari kerjaan atau posisi baru di tempat lain.

Just DON’T DO THOSE !

Mengasihani diri sendiri hanya akan menjebak kita dalam negatif ‘career trap’.
Yang lebih parah, hal ini akan menutup hati dan akal kita dari solusi-solusi jalan keluar yang obyektif.
Sadarilah bahwa situasi ketemu Bad Boss ini adalah masalah kita, yang harus kita hadapi sendiri. Nggak bisa melempar masalahnya ke orang lain dan berharap ada orang datang membawa mukjizat menyelesaikan masalah kita secara otomatis cukup dengan cara mengeluh kesana-sini…
Please.. !

Terus ?

Jack Welch share tips-nya begini..
Coba jawab pertanyaan-pertanyaan berikut secara runut, yang akan membantu mencari solusi.

Pertanyaan pertama : Kenapa bos kita jadi rese sama kita ?

Coba dicek, apakah bos kita rese dengan semua orang di unit kita atau cuma dengan kita aja ?
Kalo cuma sama kita, kiita harus kritis sama diri kita sendiri..berkaca..
Kemungkinan besar masalahnya (dalam versi bos kita) ada di diri kita sendiri.
Pada dasarnya mau good mau bad, nggak ada boss yang nggak suka dengan orang yang mereka RESPECT, SUKAI atau BUTUHKAN..

Ngaca ke diri sendiri, menggali kekurangan diri emang nggak gampang…pada kenyataannya orang lebih sering menilai dirinya sendiri ‘lebih tinggi’.
Tapi kata Welch, pada sebagian besar kasus Bad Boss, kasusnya nggak bener-bener Bad Boss. Mereka cuma Dissapointed Boss.

Kalo masalahnya di performansi atau attitude kita yang jelek di mata boss, nggak ada jalan lain..kita harus cari cara menyelesaikannya.
Cari orang yang obyektif yang bisa melihat dan menilai situasi yang kita hadapi atau bahkan ngobrol aja secara terbuka sama boss kita itu buat rencana pengembangan performansi kita atau memperbaiki attitude kita.
Ngomong-ngomong tentang attitude, ada lho orang yang bawaannya Boss Hater. Pada dasarnya orang seperti ini gak suka aja punya atasan, siapapun atasannya. Nggak heran siapapun bos-nya nggak pernah bisa klop sama dia.
Coba cek, kita golongan Boss Hater, bukan ?
Kalo kita nggak jujur dan terbuka dengan masalah performansi atau attitude kita yang nggak memuaskan ini, nggak bakal ada boss yang akan jadi Good Boss buat kita.
As simple as that…

Nah, cuma kalo jawaban pertanyaan pertama dengan kritis udah kita explore dan ternyata benar-benar penyebab atasan kita jadi Bad Boss adalah hal di luar performansi dan attitude kita, masalahnya memang jadi nggak sederhana. Misalnya urusannya sama fisik atau hal-hal yang tidak bisa kita improve.
Atau..ternyata semua orang satu team kita punya masalah yang sama..
Ya ya..kadang-kadang memang ada juga orang yang… simply, rese sama semua orang 🙂
Dalam situasi ini saatnya kita loncat ke pertanyaan kedua…

Pertanyaan kedua : Berapa lama kira-kira Bad Boss akan bertahan ?

OK, kita sudah ada di situasi yang bener-bener nothing we can do.
Solusinya berarti bertahan dengan situasi yang ada. Cuma sampai kapan ?
Kata Welch, coba perhatikan Bad Boss itu berdasar 2 kategori : PERFORMANCE kerjaannya dan kesesuaian perilakunya dengan VALUE perusahaan.

Kalo performance-nya jelek terus-terusan, mau value pribadi Bad Boss itu cocok atau nggak sama perusahaan, dapat ditebak Bad Boss itu nggak akan lama-lama ada di posisinya.
Just hang on a while.. selama kita perform, akan segera ada jalan keluar 🙂

Yang repot memang (dan ini yang banyak terjadi) kalo Bad Boss Value-nya gak cocok tapi selalu deliver result yang OK. Banyak kejadian perusahaan2 mempertahankan bos tipe ini terlalu lama sampe datang ‘bencana’ seperti kasus Enron dan WorldCom.
Kalo kita ada di posisi itu, bisa jadi kita akan cukup lama ada di situasi Bad Boss ini. Kalo ini yang terjadi, sampailah di dua pertanyaan terakhir :

Pertanyaan ketiga : bisakah kita ‘berdamai’ dengan situasi Bad Boss ini selama mungkin dengan tetap deliver result ?

Kalo nggak, pertanyaan keempat : jadi, hal apa yang menyebabkan kita bertahan ?
Adakah hal menarik lain yang membuat kita tetap di posisi Bad Boss ini ? Teman yang menyenangkan ? Pengalaman menarik ?
Kalo nggak juga, buat ‘exit plan’ yang elegan.
Keluar dengan membawa dan menawarkan prestasi, jauh lebih elegan dibandingkan ‘mengemis’ kesana-kemari..

Moral of the story :
1. Hal terpenting dalam menghadapi situasi Bad Boss : jangan menempatkan diri menjadi korban dan mengasihani diri sendiri.
2. Hal pertama yang harus dicek : apakah kita sendiri lah yang membuat kita jadi punya Bad Boss ?
3. Apapun yang terjadi, tetap jaga performance kerja dan deliver result. Ini akan menolong kita… lepas dari situasi akhirnya kita stay atau keluar sekalipun.
4. Jangan mengemis-ngemis dari orang lain. Hanya kita yang paling tahu solusi yang paling pas untuk masalah kita sendiri.

#ActCreative #BePositive

Ditulis di Padalarang dan Semarang.
Andi.

Advertisements

3 thoughts on “Punya Boss Nyebelin?

  1. Jangan pernah merasa MENJADI KORBAN dan MENGASIHANI DIRI SENDIRI. tetap jaga performance kerja dan deliver result (ijin nambahin pak, keep creative and solutive)…

    Suwun Pak ^^

    _iPam_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s