Work-Life Balance

Ini sedikit petikan dari buku ‘Winning’-nya Jack Welch tentang temuan dan riset kecil yang dilakukan sekelompok praktisi HRD mengenai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi…

Suatu ketika ada simposium yang dihadiri oleh praktisi-praktisi HRD di New York.

Seorang HR Director curhat dengan temannya : sebagian besar orang yang mengeluhkan pekerjaannya mengganggu kehidupan pribadinya adalah kelompok orang yang rendah performansinya/Low Performer di perusahaannya. Ternyata hal ini diamini juga oleh banyak rekan seprofesinya.
Mereka juga menemukan kesamaan bahwa, sebaliknya, sekitar 20% Top Performer di perusahaan mereka sama sekali tidak mengeluhkan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi.

Fakta ini menggelitik mereka untuk menggali lebih dalam.
Ternyata mereka menggaris-bawahi ada 3 hal yang menjadi penyebab fenomena yang sekilas tampak kontradiktif tersebut.

Pertama.
Top Performer memiliki etos kerja yang baik di tempat kerjanya dan ini terbawa juga ke kehidupan pribadinya. Mereka lebih efektif mengelola waktu, lebih disiplin, lebih bersungguh-sungguh dan lebih terencana.

Kedua.
Top Performer memiliki motivasi yang tinggi di tempat kerja karena berbagai penghargaan yang mereka dapatkan dari hasil pencapaian profesional mereka, akibatnya mereka lebih menikmati pekerjaannya. Sebaliknya, Low Performer cenderung mudah hilang percaya diri karena capaian profesionalnya yang biasa-biasa saja dan semakin merasa sulit untuk menikmati pekerjaan mereka.

Ketiga.
Karena berprestasi, Top Performer punya karir lebih baik dan pendapatan yang umumnya lebih tinggi juga. Oleh karena itu, mereka lebih mampu mendanai berbagai kegiatan pribadi/luar kerja. Misalnya mereka bisa menyewa supir atau pengurus rumah tangga (jangan dibayangkan seperti di Indonesia..di luar negeri, supir dan pengurus rumah tangga adalah hal mewah 🙂 ), mereka bisa menyewa pelatih pribadi untuk mendalami hobi-hobi mereka dan guru-guru privat untuk anak-anak mereka.
Hal ini membuat mereka bisa semakin fokus kepada pekerjaan mereka bahkan ikut membawa kesuksesan luar kantor mereka juga.

Moral of the story :
1. Ikhtiar semaksimal mungkin untuk jadi Top Performer, karena penentu utamanya adalah diri kita sendiri.
2. Nikmati aktivitas pekerjaan, pribadi dan keluarga. Sadar atau tidak, pilihan menikmati juga ada di diri kita sendiri dan tampaknya menikmati aktivitas jugalah resep utama dari orang-orang sukses.

#ActCreative #BePositive

Ditulis di Semarang dan di atas pesawat menuju Jakarta.
Andi.

Advertisements

One thought on “Work-Life Balance

  1. Pingback: Work Life Balance : limiting work or increase quality of life ? | Come to light

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s