Kuda dan Mobil

Bagian paling menarik dari buku Super Freakonomics buat saya adalah fakta akhir abad 19 tentang kuda.
Di kota New York pada akhir abad 19, ada sekitar 200 ribu ekor kuda yang dijadikan alat transportasi orang kesana kemari.
Bisa dibayangkan seberapa ruwetnya kota itu seabad yang lalu dengan lalu lintas kudanya.

Ada beberapa masalah dengan banyaknya jumlah kuda saat itu…

Pertama, mengendalikan kuda pada kenyataannya tidak semudah yang kita lihat di film-film koboi. Ngebelokin dan ngeremnya susah.
Angka kematian karena kecelakaan lalu lintas per penduduk saat itu (karena kuda) di New York lebih tinggi dari angka saat ini (karena mobil).

Kedua, kuda biang macet.
Udah jumlahnya banyak, kalo ada masalah dengan satu kereta kuda, minggirinnya dari jalan susah banget. Itu baru keretanya…
Kalo kudanya sakit apalagi mati ? Kebayang susahnya nyingkirin bangkai kuda dari jalanan. Dan kehidupan akan jadi lebih rumit lagi kalo bangkai kudanya nggak cepat disingkirkan dan mulai membusuk..

Ketiga, tapal kaki kuda yang bersentuhan dengan jalan plus grudak-gruduk keretanya menimbulkan polusi suara yang parah. Banyak tempat seperti Rumah Sakit yang melarang kereta kuda di areanya sangking berisiknya.

Keempat, makanan kuda sama dengan makanan orang : gandum, biji2an dan sebangsanya.
Saat itu orang-orang khawatir kalo krisis pangan terjadi, si empunya dan kendaraannya akan ‘berebut bahan bakar’ . Akibatnya? Kelangkaan dan menggilanya harga bahan pangan, inflasi, krisis ekonomi dan seterusnya..

Kelima, ini yang paling parah : kotorannya.
Satu kuda rata-rata ‘beroutput’ 7 kg sehari. Kalo ada 200ribu kuda di New York, berarti ada 1,5 ton kotoran kuda di jalanan kota setiap hari.
Saya jadi inget jalanan seputar kampus ITB pas hari minggu 20 tahun-an yang lalu. Padahal kudanya paling puluhan aja, tapi efeknya terhadap jalanan dan warung-warung makan di sekitarnya lumayan juga 🙂

OK, balik ke kota New York..
Waktu jumlahnya sedikit, kotoran masih bisa diberdayakan..tapi kalo ton-ton-an begitu nggak terbayang betapa repotnya yang membersihkan.
Kotoran jelas jadi sumber segala bibit penyakit. Belum lagi kalo hujan, si kotoran itu ‘berlarian’ ke segala penjuru kota.
Tumpukan kotoran juga yang membuat orang-orang New York cenderung membangun rumahnya bertingkat dan berkehidupan di lantai dua ke atas, karena lantai satu-nya atau yang selevel itu terlalu kotor untuk bisa dinikmati.

Belum selesai..pengamat lingkungan global juga sangat khawatir dengan urusan kotoran ini karena kotoran kuda banyak melepas gas Metana yang merupakan salah satu gas penyumbang Efek Rumah Kaca terbesar.

Nah, dengan segala macam kompleksitas yang dibuat kuda di akhir abad 19 itu, tidak heran kalo penemuan dan pengembangan mobil di awal abad 20 dianggap sebagai penemuan besar.
Bukan cuma karena efisiensi sebagai alat transportasi saja, namun juga dampaknya yang lebih luas terhadap ekonomi dan peran besarnya sebagai penyelamat masa depan lingkungan.
Ironis ya ? 🙂

Mobil lebih mudah dikendalikan karena nggak punya ego sendiri..
Kalo mobil rusak nggak cepet disingkirkan dari jalanan pun, paling enggak nggak akan berubah jadi bangkai busuk..
‘Makanannya’ beda dengan majikannya, daaan..
Hasil buangannya gak bakal numpuk ganggu hidung dan mata di depan lantai satu rumah.

Moral of the story :
Nggak perlu putus asa untuk berusaha. Allah itu ngasih manusia akal luar biasa yang bahkan bisa diberdayakan melampaui bayangan realitas kita saat ini sekalipun.

#ActCreative #BePositive

Ditulis di Bandung, Jakarta dan di atas pesawat menuju Yogyakarta.
Andi.

Advertisements

2 thoughts on “Kuda dan Mobil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s